top of page

Homo Reptilicus Sajikan Kajian Intrik Politik dalam Panggung Sandiwara

Artikel & Foto: Akbar Keimas Alfareza

Setelah menuai sukses dengan pementasan “Republik Reptil” di tahun 2010, Radhar Panca Dahana bersama Teater Kosong kembali melanjutkan pementasan tersebut dengan judul “Homo Reptilicus” yang digelar pada 24-26 Maret 2015 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pertunjukkan ini didedikasikan kepada khalayak umum yang tengah menuai keterkejutan hebat atas perseteruan antara Polri dan KPK. Kasus yang ternyata melibatkan banyak petinggi dan berbagai instansi penegak hukum ini tidak hanya menimbulkan kecemasan akan hancurnya fondasi sistem hukum kita, akan absennya landasan budaya dari sistem kenegaraan kita, tapi juga rasa frustasi yang kian dalam dan semakin membuat terpuruknya harga diri serta martabat kita sebagai sebuah bangsa. Dalam pementasan ini, baik panggung maupun penonton sama-sama menggeluti lapisan-lapisan rahasia, juga lapisan-lapisan makna yang tersimpan atau tersembunyi di balik kasus yang menghebohkan ini. pementasan ini merefleksi tentang kehidupan elit dan kenegaraan kita yang sudah dikuasai oleh para pembesar berjiwa reptil. Drama politik “Homo Reptilicus” menyindir situasi politik yang penuh intrik dan mengibaratkan sifat-sifat reptil dalam diri politikus. Dalam diri manusia terdapat insting dan sifat binatang. Termasuk dalam dunia politik, manusia adalah binatang politik (political animal). Bagaimana kaitan antara kebinatangan ini dengan politik? Melalui pertunjukan “Homo Reptilicus,” Radhar Panca Dahana selaku sutradara dan penulis naskah mengungkapkan berbagai skandal politik dan politikus yang serupa hewan melata.

Politik menjadi arena kekuasan perebutan yang sarat intrik antar elit dan mengorbankan manusia lain. Diceritakan, Semoga Damaton (Eko D. Zenah) bergeming, meskipun intograsi polisi memaksanya untuk mengakui keterlibatan Semoga dengan sindikat perdagangan perempuan. Meski berkali-kali polisi menginterograsi dengan cara kekerasan, dia hanya menjawab dengan lirih “Aku hanya ingin menjadi manusia.” Di sisi lain, istri Turi Ranum menjadi korban pemerkosaan oleh oknum militer. Kasus Semoga menjadi bulan-bulanan media sehingga Raung Itibar, sang Presiden merasa gerah dan menitahkan Komisaris Jenderal Bagus Girang (BG) untuk mengusut kasus ini sejelas mungkin.

Di balik kasus Semoga sebenarnya terdapat konspirasi besar dari segolongan elit yang saling merebutkan kekuasaan dengan memangsa yang lain. BG yang diperankan aktor senior Toto Prawoto adalah otak utama untuk merencanakan penggulingan guna mengganti kursi kepresidenan. Di depan presiden, BG terlihat sebagai sosok yang ingin melindunginya, namun ia seperti buaya yang diam-diam akan memberikan gigitan mematikan untuk sang Presiden.

Konspirasi yang digulirkan BG juga melibatkan seorang model cantik Ratih Lestari Asa (Olivia Zalianty) yang berusaha menggoda presiden. Berulang kali ditolak, Ratih akhirnya menjebak presiden, foto-foto rekayasa hingga nama baik presiden terancam. Kasus Semoga kian menjadi sorotan massa, wartawan dan pengacara yang juga seekor reptil mirip bunglon turut ikut campur menggali kasus ini, mereka menduga bila Semoga adalah saksi kunci dari konspirasi besar tersebut penggulingan presiden. Puncaknya, Semoga dan Turi diculik anak buah BG, selain itu BG merencanakan untuk menuntaskan dendam masa lalu pada beberapa orang yang mengetahui kebusukan dirinya, kendati akhirnya BG tewas dalam penyesalan mendalam usai memerkosa anaknya sendiri yang sebelumnya ia tak ketahui.

Selama lebih dari dua jam, drama ini menyajikan peristiwa-peristiwa politik yang penuh kerumitan dalam kubangan suap, korupsi, kolusi, nepotisme hingga gratifikasi seks. Di tengah keterkejutan hebat dengan perseteruan antara lembaga penegak hukum, Radar mengharapkan pertunjukan dengan mengusung narasi besar ini menjadi media mikropon dan nurani dan pikiran rakyat.

Gagasan teater kosong untuk memperlihatkan karakter pemimpin dan politikus dengan insting hewani tinggi cukup tersampaikan dengan baik. Bila Thomas Hobes mengungkapkan “manusia adalah serigala bagi manusia lainnya,” (Homo Homini Lupus) karakter-karakter tokoh di Homo Reptilicus memperlihatkan sisi predator yang ganas seperti BG yang gemar memangsa, membunuh, dan mengorbankan pihak lain demi kepentingan kekuasaan dirinya. Politik menjadi aktivitas jahat yang menjatuhkan nilai moral manusia yang mempunyai akal dan nurani. Akhirnya, pertunjukan yang menjadi bagian dari gelaran ulang tahun Radhar Panca Dahana ke-50 tahun ini memberi sentilan untuk para pemimpin dan politikus. Semoga kita tidak terjebak dengan dorongan rendah insting hewani yang dapat membahayakan diri, rakyat, dan negara.

Kajian Intrik Politik dalam Panggung Sandiwara (8).JPG
18 views0 comments
bottom of page